0 0
Advertisement Section

Bagikan CBP 10 Kg di Maros, Presiden Jokowi Jelaskan Penyebab Kenaikan Harga Beras

Read Time:3 Minute, 18 Second

MAROS-Presiden Joko Widodo membagikan 10 Kilogram (Kg) beras yang masuk dalam program Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Gudang Bulog di Kecamatan Batangase, Kabupaten Maros, Kamis (22/2).

Dalam pembagian CBP 10 Kg tersebut, Jokowi menyinggung soal penyebab kenaikan harga beras yang terjadi saat ini.

Jokowi mengatakan pemerintah telah menyiapkan program CBP untuk bulan Januari hingga Juni 2024. Ia menyebut program CBP dibagikan beras seberat 10 kg per bulan.

“Januari, Februari, Maret, April, Mei,  dan Juni, bapak-bapak dan ibu-ibu akan menerima 10 kilo (kg) per bulannya,” ujarnya.

Jokowi mengaku belum bisa memastikan kelanjutan program CBP apakah akan dilanjutkan atau tidak.

Ia mengaku hal tersebut tergantung dari kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

“Nanti setelah Juni, saya akan lihat lagi APBN kita kalau cukup (dilanjutkan). Saya engga janji lho,” tuturnya.

Jokowi menjelaskan bantuan 10 kg tersebut berkaitan dengan kenaikan harga beras yang saat ini terjadi.

Jokowi juga mengungkapkan penyebab kenaikan beras di Indonesia.

“Kenapa sih bapak-bapak dan ibu-ibu diberi bantuan beras 10 kg. Bapak-bapak ibu-ibu mendapatkan bantuan beras 10 kg karena harga berasnya naik,” tuturnya.

“Kenapa harga beras naik, karena ada perubahan musim, ada El Nino,” imbuhnya.

Ia menyebut perubahan musim dan El Nino tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dunia, Kondisi tersebut juga membuat harga beras di dunia terkerek naik.

“Itu dialami bukan hanya di negara kita, tapi negara lain juga mengalami hal yang sama. Harga beras naik, hanya di negara lain tidak diberi beras 10 kg per bulan. Tapi rakyat kita diberi 10 kg setiap bulan. Bedanya itu,” sebutnya.

Jokowi mengaku sudah memerintahkan Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk mencari beras dengan harga murah. Meski demikian, hal tersebut tidak didapatkan.

“Harga beras di seluruh dunia naik, karena Pak Direktur Bulog ini paling sering mutar ke seluruh negara dan memantau harga beras seperti di Vietnam, India, dan Thailand,” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengakui saat ini harga beras mengalami kenaikan. Meski demikian, dirinya yakin harga beras akan kembali normal saat masuk musim panen pada Maret. 

“Karena kita sekarang menunggu panen pada bulan Maret. Sebentar lagi,” ujarnya kepada wartawan usai menghaidir Diskusi Kebangsaan di Auditorium Prof Amiruddin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, Selasa (20/2). 

Amran mengaku kondisi ini sudah diprediksi sejak awal akibat adanya El Nino. Bahkan, Amran menyebut El Nino yang terjadi pada tahun 2023 dan 2024 masuk kategori Gorila. 

“Tingkatan El Nino itu ada tiga yaitu El Nino biasa, super El Nino dan gorilla El Nino. Sekarang yang terjadi adalah gorila El Nino di Indonesia,” tuturnya. 

Amran mengaku sejak kembali menjabat sebagai Menteri Pertanian pada Oktober 2023, sudah berkeliling di 15 provinsi untuk melihat dampak El Nino. 

“Kami mengecek langsung ini fenomena yang tidak pernah kami temukan dalam sejarah pertanian. Kami tanam di Jawa Tengah, dua minggu langsung hangus atau tidak tumbuh atau tiba-tiba berhenti hujan,” sebutnya. 

Dengan kondisi ini Kementerian Pertanian melakukan mitigasi risiko. Untuk melakukan mitigasi, saat diangkat kembali menjadi Mentan, dirinya langsung meminta seluruh data seperti iklim, curah huja, luas tanam, masa tanam. 

“Dan setelah saya baca data itu, saya langsung katakan ini berbahaya. Kami dipanggil presiden dan langsung melaporkan, Pak ini Januari, Februari, bahkan Maret akan terjadi short deks (kekurangan),” kata Amran. 

Akibat kondisi tersebut, awalnya Kementan yang getol menolak untuk impor beras, akhirnya menyetujui. Ia menyebut berdasarkan data secara umum, Indonsia akan kekurangan pangan. 

“Kami paling gentol dulu menolak impor. Tapi dengan membaca data secara umum ini kita kekurangan pangan,” ungkapnya. 

Di depan mahasiswa dan dosen Unhas Makassar, Amran mengaku pernah meminta data kepada Dirjen di Kementan soal produksi pangan. Ia mengungkapkan sebelum dirinya menjabat, Kementan hanya mampu produksi pangan pada 500 ribu hektare lahan pertanian. 

“Standar tanam per bulan kalau mau terpenuhi (pangan) penduduk Indonesia dengan 270 juta penduduk, itu harus tanam satu juta hektare. Tanam hanya separuh, saya tanya kepada Pak Dirjen (penyebabnya), dia jawab karena kekeringan,” sebutnya. 

Liputan : Tim Sokama.id / W R

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post PWI Kaimana Akan Laksanakan Tour Wisata Rayakan HPN ke-78
Next post Kabar Baik Bagi Warga Sulsel, Presiden Jokowi Akan Bangun Stadion di Sudiang Tahun Ini
Daftar Harga Supplier Kaos Kemeja (2)